MERAUKE – Peribahasa “digugu dan ditiru” sepertinya tidak pantas di sematkan kepada salah satu oknum guru (sdr. Rahmat Ari Rullah Sitompul Gebze) yang mengajar salah satu sekolah di Merauke. Pasalnya oknum guru tersebut membuat keresahan di masyarakat dengan dipengaruhi efek halusinasi yang diakibatkan dari menghisap ganja. Oknum guru tersebut melakukan pembacokan dan penganiyaan kepada masyarakat di sekitar Bupul, Distrik Elikobel, Kab. Merauke, Senin (27/3) pukul 18.00 WIT.
Setelah asik menghisap ganja, RA. Sitompul begitu guru ini disapa, mengendarai sepeda motor serta membawa kapak dan parang. Seketika di jalan sekitar Bupul terdapat pengendara sepeda motor lain yang melintas dan dikejar oleh pelaku sambil mencoba membacok pengendara tersebut, namun pengendara tersebut cepat menghindar dan lari kea rah hutan dengan meninggalkan sepeda motornya tergeletak di jalan.
Beberapa meter dari tempat kejadian percobaan pembacokan kepada pengendara sepeda motor, pelaku menghampiri beberapa sopir truk yang sedang beristirahat. Lagi-lagi pelaku datang dengan marah-marah dan mencoba membacok para sopir tersebut, kemudian para sopir pun berlarian ke hutan dengan meninggalkan truknya yang terparkir.
Tidak puas dengan hal tersebut, pelaku kemudian menghadang sebuah mobil yang melintas dan meminta sejumlah uang sebesar 1 juta rupiah sambil menodongkan parang. Namun sopir hanya memberikan 200 ribu rupiah kepada pelaku, pelaku pun marah dan membacok sang sopir di bagian kepala dan penumpang lainnya di bagian lengan. Melihat aksi brutal yang di lakukan oleh RA. Sitompul sang pelaku, sopir dan penumpangnya pun berlarian meminta pertolongan, dan di tolong oleh pengendara lain untuk dibawa ke pos keamanan terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
“Kami di hadang oleh orang yang membawa parang, lalu menodong kami dan meinta uang satu juta rupiah” ujar salah satu korban pembacokan. Ia pun menambahkan “karena kami hanya memberi dua ratus ribu, dia marah dan membacok kepala sopir dan lengan saya, melihat aksi brutal dia, kami pun lari mencari bantuan dengan darah yang sudah bercucuran”. Masyarakat sekitar merasa ketakutan dengan terror dari oknum guru terebut, sehingga tidak ada yang berani untuk mendekat dan takut menjadi korban pembacokan.
Melihat kejadian tersebut sopir truk yang sempat sembunyi di hutan sekitar jalan Bupul tersebut pun berlari meminta bantuan ke polsek Bupul, namun tidak ada orang di polsek. Para sopir pun berlari ke pos TNI terdekat untuk minta pertolongan dan perlindungan serta meminta diantar untuk mengambil truk yang masih terparkir.
Kemudian dua orang anggota TNI yang sedang bertugas pun mengantar para sopir yang sedang ketakutan tersebut untuk mengambil truk yang masih terparkir. Namun dalam perjalanan mengambil truk, si pelaku menghadang dengan motornya sekitar 20 meter dari para sopir dan dua orang anggota TNI.
Kemudian si pelaku turun dari motornya dan berlari sambil menyorotkan senter ke mata salah satu anggota TNI, melihat pelaku mengejar para sopir berlarian kembali mencari perlindungan. Dengan refleks seorang anggota TNI melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk menghentikan kebrutalan pelaku, namun tidak dihiraukan si pelaku. Pelaku malah mengarahkan parangnya ke salah satu anggota TNI yang lain dan hendak membacoknya, namun anggota TNI tersebut menghindar ke belakang dan melepaskan tembakan mengenai kaki pelaku untuk melumpuhkan.
Usai dilumpuhkan pelaku di serahkan kepada petugas Polsek Bupul dan dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan pertama kemudian dirujuk ke RSUD Merauke untuk.
Berdasarkan keterangan dari Kasi Intel Korem dalam konferensi pers kepada wartawan bahwa tindakan yang dilaksanakan oleh personel anggota Pos TNI tersebut adalah tindakan membela diri bukan intimidasi kepada masyarakat. Tindakan tersebut diambil karena sudah membahayakan keselamatan jiwa aparat yang melaksanakan tugas dan mengancam keamanan masyarakat sekitar.


SEMOGA PAPUA LEBIH AMAN KE DEPAN...LAWAN PEMABUK!!
BalasHapusTerimakasih bapak TNI, kami sudah lama resah sama ulah pemabuk di tanah papua ini
BalasHapus